Connect with us

Kotawaringin Timur

Baamang Tengah Jadi Pilot Project TPS 3R, Warga Didorong Kelola Sampah dari Rumah

Published

on

SAMPIT – Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui sosialisasi dan pelatihan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kelurahan Baamang Tengah, Rabu (30/9/2026), tersebut diikuti seluruh ketua RT dan RW di wilayah setempat.

Hadir pula Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Sekretaris Kecamatan Baamang, serta sejumlah penyuluh dari DLH dan BPBD.

Lurah Baamang Tengah Martinus mengatakan, keberadaan RT dan RW memiliki peran strategis karena menjadi garda terdepan dalam pelayanan pemerintahan dan kemasyarakatan di tingkat lingkungan.

Menurutnya, tugas RT dan RW tidak sebatas membantu administrasi warga, tetapi juga ikut menjaga kebersihan, ketertiban dan keamanan lingkungan sekaligus mendorong budaya gotong royong.

“Saya berharap seluruh ketua RT dan RW dapat meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menjadi contoh dalam menggerakkan kegiatan gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Terkait pengelolaan sampah, Martinus mengajak masyarakat mulai mengubah kebiasaan dengan menerapkan pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Salah satunya melalui pemilahan sampah rumah tangga sebelum dibuang.

“Mulai dari mengurangi sampah, memilah sampah dari sumbernya, memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai hingga mengelolanya agar tidak mencemari lingkungan,” katanya.

Ia menegaskan, persoalan sampah tidak dapat ditangani hanya oleh pemerintah kelurahan. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk RT dan RW, kader lingkungan, pengelola TPS 3R serta warga.

Selain persampahan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.

Pengetahuan mengenai pencegahan, kesiapsiagaan, evakuasi hingga penanganan awal dinilai penting karena kondisi darurat seperti kebakaran dan banjir dapat terjadi sewaktu-waktu.

Martinus berharap pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut tidak berhenti pada peserta, tetapi diteruskan kepada masyarakat melalui masing-masing RT dan RW.

“Ilmu dan pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruangan ini saja, tetapi dapat diteruskan dan disosialisasikan kepada masyarakat di masing-masing RT dan RW,” imbuhnya.

Ia juga meminta RT dan RW memperkuat komunikasi serta koordinasi dengan pihak kelurahan. Setiap persoalan di lingkungan diharapkan dapat diselesaikan melalui musyawarah, gotong royong dan kebersamaan.

Sementara itu, Kepala DLH Kotim Gusti Mukafi mengatakan, rencana pengembangan TPS 3R di Baamang Tengah berawal dari pengajuan kelurahan kepada DLH terkait kesiapan narasumber dan berbagai persoalan persampahan.

“Kelurahan Baamang Tengah beberapa hari yang lalu mengajukan surat ke Dinas Lingkungan Hidup terkait kesiapan narasumber dan beberapa hal terkait masalah persampahan.

Insyaallah nantinya akan dibangun TPS 3R di sini,” ungkapnya.Menurut Mukafi, sosialisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.

Terlebih, seluruh RT serta Tim Pemburu Sampah turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.“Harapan kita dengan adanya sosialisasi semacam ini bisa membangkitkan semangat warga kita yang selama ini agak sulit kita edukasi.

Tim Pemburu Sampah dan RT semua hadir pada hari ini,” katanya.Ia menyebut pemilahan sampah dari sumber merupakan salah satu indikator penting dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan.

Sampah yang telah dipilah akan lebih mudah dikelola dan memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali.“Tolok ukur kita dalam masalah kebersihan adalah sampah.

Dengan sosialisasi ini warga bisa memilah sampah seperti yang sudah diajarkan tadi,” jelasnya.Mukafi menambahkan, Baamang Tengah menjadi wilayah pertama yang mengajukan langkah tersebut sehingga diproyeksikan sebagai pilot project bagi kelurahan maupun kecamatan lainnya di Kotim.

“Untuk kecamatan yang lain belum ada yang mengajukan surat ke kita. Makanya Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang ini menjadi pilot project bagi kelurahan dan kecamatan lainnya,” ujarnya.

Ia berharap setelah sosialisasi, pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah tangga dengan melibatkan RT sebagai penggerak di lingkungan masing-masing.

Dengan pola tersebut, volume sampah yang harus ditangani di depo maupun fasilitas persampahan lainnya diharapkan dapat ditekan.

“Setelah sosialisasi nanti, warga melalui ketua RT-nya bisa mengelola sampah dari rumah tangga sehingga mengurangi beban kerja persampahan di depo-depo dan lainnya,” pungkas Mukafi.(mc/adakalteng)

Kotawaringin Timur

Sambut Hangat Musafir Langit, Kapolres Kotim Doakan Kelancaran Perjalanan Ustaz Aldi ke Baitullah

Published

on

SAMPIT – Langkah demi langkah terus ditorehkan. Ribuan kilometer bukan lagi sekadar angka, melainkan jejak perjuangan menuju Baitullah.

Di hari ke-37 perjalanan Season II, Musafir Langit Ustadz Aldi yang dikenal melalui akun TikTok Kapolo Official, mendapat suntikan semangat dan doa dari Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim), AKBP Resky Maulana Zulkarnain, S.H., S.I.K., M.H.Pertemuan berlangsung hangat di Mapolres Kotim, Jumat (10/7/2026).

Di ruang kerjanya, Kapolres tidak hanya menyambut sang pejalan kaki lintas negara itu, tetapi juga memanjatkan doa agar seluruh perjalanan menuju Tiga Tanah Suci berjalan lancar.

“Semoga dilancarkan semuanya, diberikan kesehatan, keluarga juga selalu dalam lindungan Allah. Niatkan perjalanan Ustadz ini sampai ke Tanah Suci,” ujar AKBP Resky Maulana.

Kapolres juga berpesan agar Musafir Langit senantiasa menjaga kondisi fisik selama menempuh perjalanan yang masih sangat panjang.

Tak hanya memberikan doa, orang nomor satu di Polres Kotim itu juga memastikan wilayah yang dipimpinnya aman bagi para pejalan kaki, baik siang maupun malam hari.

Pernyataan itu diamini langsung oleh Ustadz Aldi yang telah merasakan keramahan masyarakat Kotawaringin Timur selama melintasi wilayah tersebut.

“Masyarakatnya ramah-ramah semua, Pak,” tutur Ustadz Aldi kepada Kapolres.

Dalam perbincangan itu, Ustadz Aldi menceritakan bahwa perjalanan yang sedang dijalani merupakan Season II dari misi berjalan kaki menuju Tiga Tanah Suci.

Pada perjalanan sebelumnya, ia berhasil menembus Makkah dengan melintasi sejumlah negara yang memberikan fasilitas bebas visa, di antaranya Malaysia, Thailand, Laos, Nepal, hingga Dubai. (mc/adakalteng)

Continue Reading

Kotawaringin Timur

Dua Anak Terserang DBD, Warga Sampit: Kami Minta Dinas Kesehatan Segera Fogging Nyamuk

Published

on

Sampit – Dua orang anak di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dilaporkan terkena wabah Demam Berdarah Dangue (BDB), Kamis, 9 Juni 2026.

Menurut keterangan warga, dua orang anak tersebut tinggal di sekitar Jalan Iskandar 19, Sampit, Kecamatan MB Ketapang, Kabupaten Kotim, dan telah mendapat perawatan di RSUD dr. Murjani Sampit.

“Ada dua orang yang tekena DBD, satu masih di rumah sakit sudah tiga hari masih dalam perawatan, sememtara satunya baru saja keluar dari rumah sakit karena sudah stabil, cuman katanya dalam tiga hari kedepan disuruh cek lab,” kata warga yang enggan disebutkan namanya, Kamis, 9 Juni 2026.

Warga tersebut berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat segara betindak agar virus DBD tidak menyebar dan terkena kepada anak-anak lainnya.

“Kami berharap adanya penyemprotan nyamuk sehingga tidak ada lagi anak-anak yang terkena DBD disekitar lingkungan sini,” Ia juga menyebutkan, dengan adanya dua orang anak yang telah tekena virus DBD, membuat orang tua khawatir terhadap anak-anak mereka karena dapat terkena virus melalui nyamuk ini.

“Banyak sudah yang khawatir anak-anaknya juga terkena, jadi kami warga sini berharap pemerintah atau dinas terkait agar melakukan tindakan terhadap virus ini,” harap warga. (mc/adakalteng)

Continue Reading

Kotawaringin Timur

Kekecewaan Meluas, Warga Pertanyakan Komitmen CSR PT BSP di Cempaga

Published

on

SAMPIT – Ketegangan menyeruak di wilayah Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Salah satu perusahaan besar swasta (PBS) kelapa sawit yang mengeruk keuntungan di daerah tersebut yakni PT Borneo Sawit Perdana (BSP) tengah menjadi sorotan tajam.

Ditengah ajakan mereka agar masyarakat juga harus melindungi kegiatan investasi mereka justru sebaliknya saat diminta dukungan dinilai sangat melecehkan.

Perusahaan ini dinilai tidak menghargai—bahkan dituding melecehkan klub sepak bola kebanggaan masyarakat setempat, Cempaga All Star.

Pemicunya terbilang miris, dalam aksi penggalangan dana untuk pembinaan atlet muda agar bisa berlaga di ajang bergengsi sekelas kabupaten, HNR CUP 2 di Kota Sampit, PT BSP dilaporkan hanya menggelontorkan sumbangan sebesar Rp 500.000.

Nilai yang dianggap “receh” bagi sekelas perusahaan sawit raksasa ini sontak memicu amarah pengurus klub dan warga.

Pengurus Cempaga All Star, Ancah, tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya, bahkan meminta agar uang itu dikembalikan saja.

Menurutnya, kontribusi yang sangat minim tersebut merupakan bentuk nyata dari ketidakpedulian perusahaan terhadap pemuda dan pencinta olahraga di wilayah operasional mereka sendiri.

“Untuk event sekelas kabupaten, perhatian PT BSP ini sangat tidak sebanding. Mereka mengeruk keuntungan luar biasa dari bisnis kelapa sawit di tanah kami, tapi ketika pemuda lokal meminta dukungan untuk membawa nama baik daerah, tanggapannya hanya seperti ini. Kami merasa dilecehkan,” ujar Ancah dengan nada geram, Jumat 12 Juni 2026.

Bagi masyarakat Cempaga, sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan marwah dan wadah positif bagi generasi muda untuk berprestasi.

Turnamen HNR CUP 2 di Sampit merupakan panggung penting bagi Cempaga All Star untuk menunjukkan taji.

Namun, harapan mendapat sokongan segar dari korporasi yang bertengger di wilayah mereka justru berbuah kekecewaan mendalam.

Hingga berita ini diturunkan, riak kekecewaan masyarakat Cempaga terus meluas.

Publik kini mempertanyakan sejauh mana komitmen Corporate Social Responsibility (CSR) PT BSP terhadap pemberdayaan masyarakat lokal ataukah keberadaan investasi hijau tersebut hanya manis di atas kertas namun gersang dalam realisasi sosial.

“Kita sudah tahu hanya seperti itu kepedulian mereka, jadi jika ada masalah jangan minta dukungan masyarakat lagi dengan dalih menjaga investasi,” tandasnya.(mc/adakalteng)

Continue Reading

Trending

Copyright © Adakalteng.my.id