Pendidikan
Tanggapi Rencana Penutupan Prodi, Akademisi Sampit Dorong Kolaborasi yang Signifikan Pendidikan dan Pemerintahan
SAMPIT – Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menutup sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan memicu perhatian kalangan akademisi di daerah.
Kebijakan ini muncul sebagai respons atas ketimpangan serius antara jumlah lulusan dan kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.Salah satu yang menjadi sorotan adalah program studi kependidikan.
Setiap tahun, sekitar 490 ribu lulusan dihasilkan dari bidang ini, sementara kebutuhan riil hanya berkisar 20 ribu tenaga.
Selisih yang sangat besar ini dinilai bukan sekadar persoalan angka, melainkan masalah sistemik dalam perencanaan pendidikan tinggi di Indonesia.
Selama ini, banyak perguruan tinggi membuka prodi berdasarkan tingginya minat pasar.Program yang diminati terus dikembangkan, sementara yang kurang diminati perlahan ditinggalkan.
Namun, pendekatan tersebut dinilai kurang mempertimbangkan kebutuhan nyata di dunia kerja, sehingga memicu kelebihan pasokan lulusan (oversupply) di sejumlah bidang.
Menanggapi hal tersebut, Tenaga Pendidik di salah satu universitas di Sampit, Muhammad Azharul Hadi, S.Kep., Ners., M.MKes, menilai langkah evaluasi dan penutupan prodi memang perlu dilakukan, namun harus melalui kajian yang matang dan tidak tergesa-gesa.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita masih belum sepenuhnya sinkron dengan kebutuhan pembangunan. Bukan hanya soal jumlah lulusan, tapi juga relevansi kompetensi yang dihasilkan,” ujarnya.
Azharul menegaskan, persoalan pendidikan tinggi tidak bisa dilihat secara parsial. Selain jumlah lulusan yang berlebih di bidang tertentu, ada pula sektor lain yang justru kekurangan tenaga terampil.
Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi dan perencanaan yang belum optimal.
Menurutnya, perguruan tinggi ke depan memang harus lebih selektif dalam membuka maupun mempertahankan program studi.
Namun, keputusan untuk menutup prodi harus disertai solusi, seperti pengalihan ke bidang yang lebih dibutuhkan atau peningkatan kualitas kurikulum agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
“Kampus tidak bisa lagi hanya mengikuti tren minat. Harus ada keberanian untuk berbenah, menyesuaikan dengan arah pembangunan nasional dan kebutuhan industri.
Tapi di sisi lain, pemerintah juga harus memberikan peta jalan yang jelas agar kampus tidak berjalan sendiri,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri menjadi kunci untuk menciptakan lulusan yang tidak hanya banyak secara kuantitas, tetapi juga memiliki daya saing tinggi.
“Kalau tidak ada kolaborasi yang kuat, maka persoalan ini akan terus berulang. Kita butuh sistem yang benar-benar terintegrasi, dari perencanaan hingga penyerapan tenaga kerja,” ujar Azharul Dirinya juga menambahkan kondisi tersebut juga harus menjadi perhatian serius semua pihak, apalagi saat ini memang dihadapkan pada realitas bahwa masih banyak sarjana yang menganggur.
Ini bukan semata karena tidak ada lapangan kerja, tetapi juga karena kompetensi yang dihasilkan belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan.
“Solusinya bukan hanya menutup prodi, tapi bagaimana mengarahkan pendidikan agar lebih adaptif, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman,” pungkasnya.(mc/adakalteng)
Pendidikan
Disdik Kotim: Tekankan Guru Adaptasi Pengajaran di Era AI
Sampit – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Muhammad Irfansyah, mengingatkan para guru agar memahami karakter generasi masa kini yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.
Menurutnya, guru tidak lagi bisa mengajar dengan pola lama karena peserta didik saat ini merupakan bagian dari generasi Z dan Alfa yang tumbuh di era digital dan kecerdasan buatan (AI).
“Generasi yang bapak ibu ajarkan sekarang bukan generasi main-main. Mereka lahir di zaman digital. Kalau dulu kita belajar harus bawa tas besar dan mencatat, sekarang anak-anak bisa langsung bertanya ke AI, ke ‘Mbah Google’.
Jadi pendekatan kita juga harus berubah,” ujar Irfansyah, Kamis, 6 November 2025.Ia menyebutkan, tantangan guru di abad ke-21 semakin kompleks.
Jika tidak mampu menyesuaikan cara mengajar, maka siswa akan mudah bosan.“Anak-anak sekarang terbiasa dengan gawai. Kalau dalam lima detik pertama pembelajaran tidak menarik, mereka langsung ‘scroll’.
Itulah tantangan kita,” ucapnya.Irfansyah mendorong guru agar menciptakan pembelajaran yang interaktif, relevan, dan kontekstual dengan dunia digital.
Menurutnya, guru harus menjadi fasilitator yang memotivasi dan menginspirasi, bukan hanya penyampai materi.“Kita tidak bisa melarang anak bermain HP, karena sekarang itu sudah kebutuhan.
Tantangannya adalah bagaimana HP bisa menjadi sarana belajar yang efektif,” jelasnya.Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam MGMP dan KKG sebagai sarana guru berbagi pengalaman dan praktik baik.
“MGMP bukan tempat adu pendapat atau adu unjuk kebolehan, tapi wadah untuk mencari solusi bersama menghadapi tantangan pendidikan,” tambahnya. (mc/adakalteng)
Pendidikan
Dinas Pendidikan Kotim Dapat Penghargaan dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kalteng
Sampit – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menorehkan prestasi membanggakan di dunia pendidikan.
Instansi ini menerima penghargaan dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Tengah atas keberhasilan menyelenggarakan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 secara lancar, tertib, dan sesuai petunjuk teknis (juknis) dari Kemendikbudristek.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap komitmen Disdik Kotim dalam menjaga proses seleksi agar transparan, adil, dan berintegritas, sekaligus memastikan setiap sekolah melaksanakan tahapan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Muhammad Irfansyah, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut dan mengapresiasi seluruh pihak yang berperan dalam suksesnya pelaksanaan SPMB tahun ini.
“Alhamdulillah, pelaksanaan SPMB di Kotim berjalan dengan baik. Semua tahapan mengikuti juknis dari Kemendikbudristek, dan hal ini mendapat apresiasi dari BPMP Provinsi Kalteng,” ujar Irfansyah, Kamis, 23 Oktober 2025.
Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil koordinasi yang solid antara sekolah, panitia seleksi, dan dukungan masyarakat. Sejak awal, Disdik menekankan pentingnya keterbukaan dan keadilan dalam penerimaan siswa baru agar semua anak memperoleh kesempatan yang sama untuk bersekolah.
“Seluruh sekolah kami minta benar-benar mematuhi aturan, baik dalam jalur zonasi, afirmasi, maupun prestasi. Tujuan kami sederhana, tidak ada anak yang merasa terabaikan dalam proses seleksi,” jelasnya.
Irfansyah menegaskan bahwa penghargaan yang diterima bukan hanya bentuk pengakuan, tetapi juga menjadi pemacu semangat bagi seluruh satuan pendidikan di Kotim untuk terus memperbaiki sistem tata kelola dan layanan pendidikan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbenah. Ke depan, pelaksanaan SPMB di Kotim harus lebih baik lagi, dengan prinsip keadilan, transparansi, dan akuntabilitas,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan ini membuktikan bahwa semangat gotong royong dalam dunia pendidikan di Kotim masih sangat kuat.
“Semua pihak berperan, mulai dari kepala sekolah, guru, panitia, hingga masyarakat. Tanpa kebersamaan itu, hasilnya tentu tidak akan sebaik ini,” pungkas Irfansyah. (mc/adakalteng)
Pendidikan
Prestasi ! Dua Pelajar Kotim Go Ajang Penelitian Internasional di Malaysia
SAMPIT – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh generasi muda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Dua siswi, Elena Giselle Lantan dan Ilonka Rezky Hyzkia, berhasil lolos untuk mewakili Indonesia dalam ajang penelitian tingkat internasional yang digelar di Cyberjaya, Malaysia.Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Muhammad Irfansyah, menyebut keberangkatan kedua pelajar tersebut bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi juga bukti nyata bahwa pelajar Kotim mampu bersaing di level global.
“Ini kebanggaan bagi kita semua. Mereka tidak hanya membawa nama sekolah dan daerah, tapi juga nama Indonesia. Kami akan memberikan dukungan penuh agar bisa tampil maksimal di ajang bergengsi ini,” ujar Irfansyah, Selasa (16/9/2025).
Meski begitu, Irfansyah mengakui masih banyak keterbatasan yang dihadapi siswa di daerah, terutama fasilitas penelitian. Minimnya laboratorium dan sulitnya memperoleh bahan penelitian kerap menjadi tantangan besar jika dibandingkan dengan pelajar di kota-kota besar.“Kalau di kota besar mereka punya laboratorium lengkap dan pendamping ahli.
Sementara di sini, mencari bahan kimia sederhana saja sulit. Itu yang sering jadi kendala,” jelasnya.Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat pelajar Kotim. Sebelumnya, siswa SMA Negeri 2 Sampit juga sukses menembus ajang internasional di India dengan penelitian inovatif terkait pewarna makanan dari tanaman lokal.“Itu bukti bahwa kreativitas bisa menembus batas. Keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi.
Kami berharap semakin banyak peneliti belia lahir dari Kotim,” tambahnya.Irfansyah menekankan, peran guru pembimbing dan dukungan sekolah sangat penting dalam mengarahkan siswa agar mampu melahirkan karya inovatif.“Tanpa bimbingan guru, anak-anak akan kesulitan mengembangkan bakatnya.
Kolaborasi antara siswa, sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar sangat menentukan keberhasilan mereka,” ucapnya.Ke depan, Disdik Kotim berkomitmen membuka ruang lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan ide penelitian. Tujuannya, melahirkan lebih banyak peneliti muda yang dapat mengharumkan nama daerah di kancah nasional maupun internasional. (c1)
-
Kotawaringin Timur3 bulan agoAktifitas PT HAL Terancam Ditutup Ahli Waris Jika Tak Patuhi Adat dan Pengadilan
-
Pendidikan1 tahun agoKKG Gugus I Halilintar Terus Dorong Guru Kotim Tingkatkan Kompetensi dan WORKSHOP
-
Lamandau7 bulan agoMediasi Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra Berakhir Damai: PT SLR Sepakati Kompensasi dengan Warga
-
Kotawaringin Timur7 bulan agoBangun Kepercayaan Diri Generasi Muda, PT Excellent Training Centre Gelar Pelatihan Public Speaking Bersertifikat di Sampit
-
Pendidikan1 tahun agoSDN 4 Ketapang Sampit Dapatkan Obat Cacing Gratis
-
Berita Utama7 bulan agoPresiden Prabowo Pertama RI yang Hadir di Sidang Umum PBB
-
Berita Utama8 bulan agoPenumpang KM Dharma Rucitra VI Hilang Usai Melompat ke Laut di Perairan Sampit
-
Pendidikan9 bulan agoAnjar Subiantori: Gerbang Awal Menuju Tantangan Kedepan
