Connect with us

Kotawaringin Timur

Pemkab Kotim Tegaskan Pembangunan Yonif TP 923/Mentaya Berdiri di Atas Lahan TNI, di Luar Area Sengketa

Published

on

SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 923/Mentaya dilakukan di atas lahan milik TNI dan berada di luar wilayah yang saat ini disengketakan di pengadilan.

Penegasan tersebut disampaikan Asisten I Setda Kotim, Waren, dalam press rilis di Ruang Pers Gedung A Kantor Bupati Kotim, Jumat (22/5/2026), menyusul munculnya polemik dugaan penyerobotan lahan di kawasan pembangunan Yonif TP 923/Mentaya di Jalan Jenderal Sudirman Km 18, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

“Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mendukung pembangunan Yonif TP 923/Mentaya.

Lokasi pembangunan berada di atas lahan TNI yang telah dikelola dan dikuasai Kodim 1015/Sampit sejak 1999 serta memiliki Surat Pernyataan Tanah (SPT) yang diregister kelurahan dan kecamatan,” ujar Waren.

Menurutnya, pembangunan Yonif TP 923/Mentaya merupakan bagian dari penguatan sistem pertahanan wilayah sekaligus menjaga stabilitas keamanan daerah.

Kehadiran batalyon tersebut juga diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan pembangunan.

Pemkab Kotim meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya dan tetap menjaga situasi daerah tetap kondusif.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang dapat menghambat pembangunan serta bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban daerah,” katanya.

Waren juga memastikan objek lahan yang diklaim oleh kelompok tani berbeda dengan titik pembangunan Yonif TP 923/Mentaya.

“Lahan yang sedang disengketakan di pengadilan berada di luar lokasi pembangunan Yonif TP 923/Mentaya,” tegasnya.

Sementara itu, Kaur Tuud Denzibang 1/XXII/Sampit Korem 102/Panju Panjung, Panca Setiawan menjelaskan, lahan seluas 75 hektare yang kini digunakan untuk pembangunan Yonif TP 923/Mentaya merupakan bagian dari aset TNI berdasarkan penunjukan Bupati pada 1996.

Ia mengatakan, sejak 1999 TNI mulai memanfaatkan lahan tersebut sebagai lapangan tembak sesuai SK Bupati.

“Awalnya kami menggarap untuk lapangan tembak ukuran 200 x 400 meter sesuai penunjukan lahan,” ujarnya.Namun, pada 2011 muncul klaim dari Kelompok Tani Hatan Tiring II setelah dilakukan pengecekan titik koordinat oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang menyebut arah penunjukan awal berbeda dari lokasi lapangan tembak saat itu.

Panca menyebut persoalan tersebut sempat diselesaikan melalui pengecekan lapangan bersama antara TNI dan kelompok tani dengan pemasangan empat patok batas yang disepakati kedua pihak.

“Pemasangan batas disaksikan Danramil, pihak Denzibang, Ketua Kelompok Tani Hatan Tiring II almarhum Muhran beserta pengurus dan anggota kelompok tani,” jelasnya.

Menurut Panca, saat itu kedua pihak sepakat terkait batas lahan dan tidak ada persoalan hingga 2023.

Sengketa kembali muncul setelah meninggalnya Ketua Kelompok Tani Hatan Tiring II dan adanya gugatan baru dari pihak lain.

“Yang disengketakan sebenarnya arah penunjukan SK Bupati tahun 1996, sedangkan lokasi pembangunan Yonif saat ini berada di zona berbeda dan di luar area sengketa,” tegasnya lagi.

Ia memastikan pembangunan Yonif TP 923/Mentaya saat ini dilakukan di area yang telah dikuasai Kodim 1015/Sampit dengan legalitas lahan seluas 75 hektare.

“Posisi pembangunan sekarang berada di luar titik sengketa,” katanya.Selain memperkuat pertahanan wilayah, keberadaan Yonif TP 923/Mentaya dinilai akan membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, mulai dari tumbuhnya pelaku UMKM hingga berkembangnya fasilitas pendidikan dan perdagangan.

“Dengan adanya batalyon, ekonomi masyarakat tentu akan bergerak. UMKM bisa tumbuh, begitu juga fasilitas umum seperti sekolah dan pasar,” tandas Panca.(mc/adakalteng)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kotawaringin Timur

Baamang Tengah Jadi Pilot Project TPS 3R, Warga Didorong Kelola Sampah dari Rumah

Published

on

SAMPIT – Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui sosialisasi dan pelatihan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kelurahan Baamang Tengah, Rabu (30/9/2026), tersebut diikuti seluruh ketua RT dan RW di wilayah setempat.

Hadir pula Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Sekretaris Kecamatan Baamang, serta sejumlah penyuluh dari DLH dan BPBD.

Lurah Baamang Tengah Martinus mengatakan, keberadaan RT dan RW memiliki peran strategis karena menjadi garda terdepan dalam pelayanan pemerintahan dan kemasyarakatan di tingkat lingkungan.

Menurutnya, tugas RT dan RW tidak sebatas membantu administrasi warga, tetapi juga ikut menjaga kebersihan, ketertiban dan keamanan lingkungan sekaligus mendorong budaya gotong royong.

“Saya berharap seluruh ketua RT dan RW dapat meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menjadi contoh dalam menggerakkan kegiatan gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Terkait pengelolaan sampah, Martinus mengajak masyarakat mulai mengubah kebiasaan dengan menerapkan pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Salah satunya melalui pemilahan sampah rumah tangga sebelum dibuang.

“Mulai dari mengurangi sampah, memilah sampah dari sumbernya, memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai hingga mengelolanya agar tidak mencemari lingkungan,” katanya.

Ia menegaskan, persoalan sampah tidak dapat ditangani hanya oleh pemerintah kelurahan. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk RT dan RW, kader lingkungan, pengelola TPS 3R serta warga.

Selain persampahan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.

Pengetahuan mengenai pencegahan, kesiapsiagaan, evakuasi hingga penanganan awal dinilai penting karena kondisi darurat seperti kebakaran dan banjir dapat terjadi sewaktu-waktu.

Martinus berharap pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut tidak berhenti pada peserta, tetapi diteruskan kepada masyarakat melalui masing-masing RT dan RW.

“Ilmu dan pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruangan ini saja, tetapi dapat diteruskan dan disosialisasikan kepada masyarakat di masing-masing RT dan RW,” imbuhnya.

Ia juga meminta RT dan RW memperkuat komunikasi serta koordinasi dengan pihak kelurahan. Setiap persoalan di lingkungan diharapkan dapat diselesaikan melalui musyawarah, gotong royong dan kebersamaan.

Sementara itu, Kepala DLH Kotim Gusti Mukafi mengatakan, rencana pengembangan TPS 3R di Baamang Tengah berawal dari pengajuan kelurahan kepada DLH terkait kesiapan narasumber dan berbagai persoalan persampahan.

“Kelurahan Baamang Tengah beberapa hari yang lalu mengajukan surat ke Dinas Lingkungan Hidup terkait kesiapan narasumber dan beberapa hal terkait masalah persampahan.

Insyaallah nantinya akan dibangun TPS 3R di sini,” ungkapnya.Menurut Mukafi, sosialisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.

Terlebih, seluruh RT serta Tim Pemburu Sampah turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.“Harapan kita dengan adanya sosialisasi semacam ini bisa membangkitkan semangat warga kita yang selama ini agak sulit kita edukasi.

Tim Pemburu Sampah dan RT semua hadir pada hari ini,” katanya.Ia menyebut pemilahan sampah dari sumber merupakan salah satu indikator penting dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan.

Sampah yang telah dipilah akan lebih mudah dikelola dan memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali.“Tolok ukur kita dalam masalah kebersihan adalah sampah.

Dengan sosialisasi ini warga bisa memilah sampah seperti yang sudah diajarkan tadi,” jelasnya.Mukafi menambahkan, Baamang Tengah menjadi wilayah pertama yang mengajukan langkah tersebut sehingga diproyeksikan sebagai pilot project bagi kelurahan maupun kecamatan lainnya di Kotim.

“Untuk kecamatan yang lain belum ada yang mengajukan surat ke kita. Makanya Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang ini menjadi pilot project bagi kelurahan dan kecamatan lainnya,” ujarnya.

Ia berharap setelah sosialisasi, pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah tangga dengan melibatkan RT sebagai penggerak di lingkungan masing-masing.

Dengan pola tersebut, volume sampah yang harus ditangani di depo maupun fasilitas persampahan lainnya diharapkan dapat ditekan.

“Setelah sosialisasi nanti, warga melalui ketua RT-nya bisa mengelola sampah dari rumah tangga sehingga mengurangi beban kerja persampahan di depo-depo dan lainnya,” pungkas Mukafi.(mc/adakalteng)

Continue Reading

Kotawaringin Timur

Sambut Hangat Musafir Langit, Kapolres Kotim Doakan Kelancaran Perjalanan Ustaz Aldi ke Baitullah

Published

on

SAMPIT – Langkah demi langkah terus ditorehkan. Ribuan kilometer bukan lagi sekadar angka, melainkan jejak perjuangan menuju Baitullah.

Di hari ke-37 perjalanan Season II, Musafir Langit Ustadz Aldi yang dikenal melalui akun TikTok Kapolo Official, mendapat suntikan semangat dan doa dari Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim), AKBP Resky Maulana Zulkarnain, S.H., S.I.K., M.H.Pertemuan berlangsung hangat di Mapolres Kotim, Jumat (10/7/2026).

Di ruang kerjanya, Kapolres tidak hanya menyambut sang pejalan kaki lintas negara itu, tetapi juga memanjatkan doa agar seluruh perjalanan menuju Tiga Tanah Suci berjalan lancar.

“Semoga dilancarkan semuanya, diberikan kesehatan, keluarga juga selalu dalam lindungan Allah. Niatkan perjalanan Ustadz ini sampai ke Tanah Suci,” ujar AKBP Resky Maulana.

Kapolres juga berpesan agar Musafir Langit senantiasa menjaga kondisi fisik selama menempuh perjalanan yang masih sangat panjang.

Tak hanya memberikan doa, orang nomor satu di Polres Kotim itu juga memastikan wilayah yang dipimpinnya aman bagi para pejalan kaki, baik siang maupun malam hari.

Pernyataan itu diamini langsung oleh Ustadz Aldi yang telah merasakan keramahan masyarakat Kotawaringin Timur selama melintasi wilayah tersebut.

“Masyarakatnya ramah-ramah semua, Pak,” tutur Ustadz Aldi kepada Kapolres.

Dalam perbincangan itu, Ustadz Aldi menceritakan bahwa perjalanan yang sedang dijalani merupakan Season II dari misi berjalan kaki menuju Tiga Tanah Suci.

Pada perjalanan sebelumnya, ia berhasil menembus Makkah dengan melintasi sejumlah negara yang memberikan fasilitas bebas visa, di antaranya Malaysia, Thailand, Laos, Nepal, hingga Dubai. (mc/adakalteng)

Continue Reading

Kotawaringin Timur

Dua Anak Terserang DBD, Warga Sampit: Kami Minta Dinas Kesehatan Segera Fogging Nyamuk

Published

on

Sampit – Dua orang anak di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dilaporkan terkena wabah Demam Berdarah Dangue (BDB), Kamis, 9 Juni 2026.

Menurut keterangan warga, dua orang anak tersebut tinggal di sekitar Jalan Iskandar 19, Sampit, Kecamatan MB Ketapang, Kabupaten Kotim, dan telah mendapat perawatan di RSUD dr. Murjani Sampit.

“Ada dua orang yang tekena DBD, satu masih di rumah sakit sudah tiga hari masih dalam perawatan, sememtara satunya baru saja keluar dari rumah sakit karena sudah stabil, cuman katanya dalam tiga hari kedepan disuruh cek lab,” kata warga yang enggan disebutkan namanya, Kamis, 9 Juni 2026.

Warga tersebut berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat segara betindak agar virus DBD tidak menyebar dan terkena kepada anak-anak lainnya.

“Kami berharap adanya penyemprotan nyamuk sehingga tidak ada lagi anak-anak yang terkena DBD disekitar lingkungan sini,” Ia juga menyebutkan, dengan adanya dua orang anak yang telah tekena virus DBD, membuat orang tua khawatir terhadap anak-anak mereka karena dapat terkena virus melalui nyamuk ini.

“Banyak sudah yang khawatir anak-anaknya juga terkena, jadi kami warga sini berharap pemerintah atau dinas terkait agar melakukan tindakan terhadap virus ini,” harap warga. (mc/adakalteng)

Continue Reading

Trending

Copyright © Adakalteng.my.id